بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Nabi Musa bersama dengan Yusha kembali ke tempat itu dan mencari – cari jejak, ini menunjukkan sudah sangat jauh ia meninggalkan Majma’ah Bahrain tempat yang dijanjikan oleh Allah untuk bertemu dengan Nabi Khadir ‘Alaihissalam, pada saat keduanya tiba ditempat itu, tempat itu telah berubah, keduanya mendapati seorang hamba yang selama ini mereka cari yang bernama Khadir, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. (QS. Al-Kahfi: 65). Mengapa disebut Khadir karena tidaklah beliau menginjak suatu tempat melainkan tiba – tiba menjadi hijau atau tumbuh menjadi hijau, sebagian ada yang mengatakan diantaranya ulama tafsir disebut Khadir karena ketika Nabi Musa mendapatinya dia menggunakan pakaian yang warna hijau pada waktu itu.

Rahmah dalam ayat diatas kata ulama tafsir adalah kenabian atau Ar Risalah dan Allah lebih tahu dimana diturunkan risalah dan nubuahnya, manakah pendapat yang kuat dikalangan para ulama apakah Khadir seorang Nabi atau seorang Wali yang sholeh, yang shahih dia adalah Nabi yang sholeh yang juga mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala walaupun kedudukannya tidak sama dengan Nabi Musa ‘Alaihissalam, ini pendapat yang rajih, kemudian apakah Nabi Khadir telah meninggal dunia atau tidak..? pendapat untuk menyelisihi pendapat sebahagiaan ahlul tariqah yang menganggap Nabi Khadir masih hidup sampai sekarang bahkan sebagian ada yang meyakini jika ada peminta – minta datang ke rumah ,maka hati – hati jangan sampai dia Khadir namun yang shahih khadir itu telah meningggal sebagaimana penegasan Allah di dalam Al-Qur’an:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?”. (QS. Al-Anbiya: 34).

Nabi Musa memberi salam dengan berkata:”Assalamu ‘alaikum”, Khadir kaget dan berkata:”Bagaimana engkau bisa mengenal ucapan salam yang seperti ini”, Khadir berkata demikian karena beliau tahu bahwasanya banyak yang belum beriman kepada Allah dan syi’ar seperti salam ini belum banyak yang tahu makanya beliau kaget ketika Musa berkata:”Assalamu ‘alaikum”, Khadir menjawab:”Wa’alaikumussalam”, Nabi Musa berkata:”Ana musa”, Khadir menjawab:”Musa bani ibrahim”, beliau berkata:”Na’am”, berarti Khadir ini memang sudah menunggu ditempat tersebut karena dia juga diwahyukan oleh Allah bahwasanya dia akan didatangi oleh seorang Nabi yang mulia yang bernama Musa ‘Alaihissalam, maka berjumpalah keduanya, Musa kemudian berkata kepada Yusha:”Yusha tugasmu sudah selesai saya sudah berjumpa dengan khadir silahkan pulang”, begitulah petunjuk dari Allah cuma Musa dan Nabi Khadir. Boleh jadi ada sesuatu yang akan terjadi yang mana Yusha ini belum faham sehingga Musa menyuruhnya pulang, maka pulanglah Yusha, Nabi Musa kemudian berkata kepada Khadir:

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

“Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?”. (QS. Al-Kahfi: 66).

Ini adab seorang penuntut ilmu, padahal Nabi Musa lebih tinggi kedudukannya dari pada Nabi Khadir tapi beliau beradab dengan Khadir karena dia datang menuntut ilmu, oleh karenanya awal keberkahan dari ilmu yang kita tuntut atau pelajari adalah adab, terutama kepada para asatidz, para ustadz, para pembina, para guru, jadi jika ingin keberkahan maka milikilah adab sebagaimana Nabi Musa kepada Nabi Khadir.

Nabi Khadir ‘Alaihissalam berkata:

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku”. (QS. Al-Kahfi: 67). Ini ujian pertama dari seorang guru oleh karenanya seorang murid harus bisa bersabar dengan gurunya karena guru semunya tidak sama ada yang lembut, tegas, keras, disiplin, dan semuanya harus dilalui dengan kesabaran.

Jadi Khadir berkata:”Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku”, Khadir lanjut berkata:

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

“Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?”. (QS. Al-Kahfi: 68).

Banyak hal yang engkau lihat nanti yang engkau akan ingkari dan saya yakin engkau tidak mampu bersabar.

Disini ulama kita menyebutkan faidah bolehnya bagi seorang guru ketika ada yang hendak menuntut ilmu darinya mempersyaratkan sesuatu kepadanya selama tidak ada pelanggaran syar’i di dalamnya, adapun jika bertentangan dengan syariat misalnya ada seornag guru yang menyuruh muridnya untuk melakukan yang bertentangan dengan syariat maka ini tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada sang Khalik, jangan kita menganggap bahwasanya guru itu segala – galanya sehingga apapun yang ia katakan dipercaya dan ini yang biasa diyakini oleh sebagian Ahlu Tariqah sampai ada yang memakan kotoran dan seterusnya, jadi yang seperti ini tidak ditaati tapi jika mempersyaratkan dengan hal – hal yang tidak ada pelanggaran syar’i di dalamnya maka dibolehkan sebagaimana syarat yang disampaikan oleh Khadir.

Nabi Musa berkata:

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. (QS. Al-Kahfi 69).

Ini bagian dari beradab kepada Allah, selalu mengikutkan ucapan insyaAllah yang artinya semoga Allah menghendaki.

Ayat tersebut menandakan bahwa Musa menerima syarat yang disampaikan oleh Khadir. Khadir menegaskan dalam ayat selanjutnya:

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

“Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. (QS. Al-Kahfi: 70).

Berjalanlah keduanya.

Bersambung….

………………………………………………

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@selasa, 20 Rabiul Akhir 1441 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.