بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari).

  1. Nikmat Sehat

Nikmat sehat adalah merupakan nikmat yang paling besar tatkala kita pergi bersiarah ke rumah sakit melihat saudara – saudara kita yang terbaring dirumah sakit.

Ahlu hikmah mengatakan:”Nikmat kesehatan itu seperti mahkota, tidak ada yang tau pentingnya nikmat kesehatan itu kecuali orang – orang yang sakit sebagaimana orang yang memakai mahkota ia akan baru sadar yang selama ini ia selalu bersama mahkota yang indah tatkala mahkota itu telah ditanggalkan dari kepalanya,begitu pula dengan nikmat kesehatan“. Ketahuilah bahwa nikmat kesehatan yang akan pertama kali Allah akan tanyakan kelak dihari kemudian sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba pertama kali pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?” (HR. Tirmidzi no. 3358. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

  1. Nikmat Waktu Luang

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Imam Syafi Rahimahullah berkata:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسَعَتْهُمْ

Seandainya setiap manusia merenungkan surah ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/499).

  1. Demi Masa

Allah Subhanahu wata’ala mengawali surah ini dengan bersumpah salah satu nama makhluknya yaitu “Demi masa”, ada beberapa penafsiran dari para ulama:

  1. Penafsiran dari jumhur mufassirin mengatakan :”Al-Ashr itu waktu yang secara umum dimana terjadi pergerakan aktifitas anak cucu adam baik itu aktifitas yang mulia maupun aktifitas yang buruk.
  2. Tafsiran yang dinukil oleh Imam Malik Rahimahullah mengatakan bahwa Al-Ashr adalah (waktu sore hari) karena ada keterangan dari hadist Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan agungnya waktu ashar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ ولا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ …ثُمَّ قَالَ : وَرَجُلٌ بَايَعَ رَجُلاً بِسِلْعَتِهِ بَعْدَ الْعَصْرِ فَحَلَفَ بِاللّٰهِ لأَخَذَهَا بِكَذَا وَكَذَا فَصَدَّقَهُ فَأَخَذَهَا وَهُوَ عَلىَ غَيْرِ ذٰلِكَ.

Tiga golongan yang Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. Kemudian beliau bersabda, “Dan seorang yang menjual barangnya kepada orang lain setelah shalat Ashar dan dia bersumpah kepada Allah bahwa dia membelinya dengan ini dan ini. Orang itu membenarkannya padahal dia tidak seperti yang dikatakannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Salah satu kaidah tidaklah Allah Subhanahu wata’ala bersumpah atas mahluknya kecuali menunjukkan kemuliaan makhluk tersebut dan Allah Subhanahu wata’ala memberitahu kepada kita akan pentingnya waktu tersebut.

2. Sesungguhnya Manusia Dalam Keadaan Merugi

Allah Subhanahu wata’ala pada ayat ini menggunakan “Alif Lam Al Insan Lil Istighroq” yang mencakup semua manusia yang disebutkan dalam ayat tersebut sebagai orang yang merugi.

Permisalan seseorang yang menyesal dan merugi adalah seperti 3 orang yang berjalan di tengah malam lalu orang yang satu memungut beberapa batu yang dimasukkan ke dalam kantongnya, kemudian orang ke dua memungut batu yang lumayan banyak dari yang pertama dan orang yang ke tiga tidak memungut satu pun batu akhirnya mereka pun terus berjalan dan berlalulah kegelapan itu hingga muncul cahaya dan ternyata yang mereka pungut tadi adalah bongkahan – bongkahan emas, orang pertama ini menyesal kenapa tidak mengisi seluruh kantongnya, kemudian yang kedua menyesal kenapa tidak membuka bajunya dan mengisi semua dengan bongkahan emas dan orang ketiga sangat menyesal kenapa tidak megambil sedikit atau satupun dari bongkahan emas, begitulah tatkala kelak dihari kemudian dihadapan pengadilan Allah Subhanahu wata’ala menyesal dengan ibadah yang sedikit dan bahkan kurang ketika dulu didunia.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

يَوْمَ لاَيَنفَعُ مَالٌ وَلاَبَنُونَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(Yaitu) pada hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. asy-Syu’ara: 88-89).

3. Kecuali Orang – Orang Yang Beriman Dan Beramal Sholeh

kemudian setelahnya Allah mendatangkan pengecualian yaitu orang – orang yang tidak merugi dan lazimnya yang dikecualikan itu adalah sedikit dari jumlah yang banyak. Mereka yang Allah Subhanahu wata’ala kecualikan adalah orang – orang yang beriman yang membangun keimanan mereka diatas ilmu dan keyakinan yang benar dan iman yang sehat, karena banyak orang yang mengaku beriman namun imannya keliru mereka beriman kepada Allah dan bertawakkal pula kepada selain Allah, mereka berbuat syirik kepada Allah Subhanahu wata’ala. mereka Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Namun mereka mengingkari sebagian Nabi dan Rasul, Orang yang mengingkari – walaupun satu Rasul – sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah Ta’ala berfirman:

artinya, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’araa 26:105). Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul. kemudian diantara yang Allah kecualikan adalah mereka yang mengerjakan amal sholeh sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Nasehat Menasehati Supaya Mentaati Kebenaran

Kriteria Keempat agar ditanggalkan status merugi pada diri mereka adalah mereka yang saling menasehati dalam kebenaran, kita bersyukur kepada Allah karena kita berada dizaman dimana informasi itu terbuka dan bisa diakses melalui berbagai social media yang bisa kita manfaatkan untuk berbagi nasehat, bukan menggunakan untuk melalaikan kita dan berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala, jika zaman dahulu untuk mendapatkan informasi haruslah berbulan – bulan dengan menggunakan kuda, adapun dizaman sekarang begitu mudahnya informasi untuk kita dapatkan. Rasulullah ketika hijrah yang beliau bangun terlebih dahulu adalah Masjid Nabawi sebelum rumahnya setelah masjid dibangun barulah kemudian ia membangun rumahnya sendiri dekat masjid. Disini kita bisa mendapatkan faedah bahwasanya tatkala kita hendak membangun rumah maka pilihlah tempat dimana di dalamnya terdapat orang – orang yang baik dan sholeh agar kita senangtiasa berada dalam lingkungan yang baik dan jikalaupun kita terjerumus ke dalam kesalahan dan dosa maka tetangga kita yang baik akan senantiasa menasehati kita.

5. Nasehat Menasehati Supaya Menetapi Kesabaran

Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:“Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95).

Jalan kesabaran adalah jalan yang penuh dengan tantangan dan cobaan lihatlah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam betapa letih kehidupan yang beliau hadapi beliau berdakwah ditanah kelahirannya ia ditolak bahkan dari kalangan keluarganya sendiri, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tatkala beribadah ditaruh diatas punggungnya isi perut unta begitu pula dengan sahabatnya mengerjakan sholat ada yang ditampar dengan menggunakan sandal dan sahabat – sahabat yang lain juga mengalami penyiksaan. ketika di kota thaif Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemui para pemuka penduduk thaif untuk mengajaknya ke dalam islam namun pemuka penduduk kota thaif bahkan menyuru pemuda – pemuda mereka untuk berbaris dipinggir jalan dan tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lewat mereka kemudian melempari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam hingga kemudian tubuh beliau terluka dan mengeluarkan darah, lalu datang kemudian malaikat menawarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menimpakan gunung kepada penduduk thaif yang ingkar tersebut, namun Rasulullah menolak dan berkata:”Tidak, Sesungguhnya kaumku tidak mengetahui”. Hasil dari buah kesabaran Rasulullah kemudian lahir generasi penduduk thaif yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala. olehnya tatkala mendengar adzan kita bersabar untuk mengerjakan sholat, begitu pula dengan amalan dan ibadah yang lainnya hendaklah bersabar dan ikhlas kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Imam al jauzi Rahimahullah pernah berpesan:

Sesungguhnya keletihan karna melakukan ketaatan akan hilang dan tinggallah pahalanya dan kenikmatan melakukan maksiat akan hilang dan tinggallah hukumannya”.



Oleh: Ustadz H. Marzuki Umar, Lc. Hafidzahullahu Ta’ala (Alumni Universitas Madinah, KSA & Mahasiwa Pasca Universitas madinah, KSA).

Rabu, 16 Safar 1438 H

@Masjid Al-Ikhlas Alauddin_Makassar

Kunjungi :

Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://Mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/channel
/UCIGoaFDkENVOY187i92iRqA

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.