بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Ada seseorang yang jatuh dalam maksiat karena kejahilannya (dia tidak tahu) dan ini lebih ringan dari orang yang mengetahui kebaikan tetapi ia tidak mengerjakannya atau mengetahui keburukan tetapi dia tidak meninggalkannya karena orang jahil masih bisa mendapatkan udzur Karena kejahilannya akan tetapi tidak semua yang jahil itu diberi udzur sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama kita. Di zaman ini tidak ada lagi alasan untuk tidak mengetahui ilmu agama karena jalan – jalan untuk menuntut ilmu sangat dimudahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, olehnya kita senantiasa meminta kepada Allah agar diberi keistiqamahan, agar diberi jalan dan petunjuk ke jalan yang lurus. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diantara doa iftitah yang beliau baca ketika mengerjakan Qiyamullail:

اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Ya Allah, Rabb-nya malaikat Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi. Yang mengetahui hal ghaib dan juga nyata. Engkaulah hakim di antara hamba-hamba-Mu dalam hal-hal yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk menuju jalan yang lurus, kepada siapa saja yang Engkau kehendaki”. (HR. Muslim 2/185).

Yang menjadi inti dalam doa ini adalah “Tunjukkanlah aku kebenaran dalam apa yang diperselisihkan”.

Kedudukan orang yang istiqamah tentu bertingkat – tingkat ada yang sampai pada tingkat yang tertinggi dimana dia menjalankan kewajibannya kepada Allah dan meninggalkan berbagai macam kemungkaran serta menjaga dirinya dari perkara – perkara yang subhat sebagaimana disebutkan oleh Allah didalam Al-Qur’an:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar“. (QS. Fathir : 32).

Dalam ayat ini disebutkan 3 golongan,

Golongan pertama ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ (Menganiaya diri mereka sendiri)

Dia termasuk golongan yang susah dan sedikit mengerjakan kebaikan dan mudah terjatuh para perkara – perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, nampak lebih banyak keburukan yang ia kerjakan dibanding dengan kebaikan.

Golongan yang kedua مُقْتَصِدٌ (Pertengahan)

Dia meninggalkan yang haram dan mengerjakan yang wajib namun masih terjatuh pada perkara – perkara yang subhat, yang lebih rendah dari itu dia mengerjakan yang wajib sekaligus juga mengerjakan perkara yang mungkar dia mencampur adukan antara keburukan dan kesholehan tergantung dari kekuatan iman atau kekuatan hawa nafsu didalam hatinya mana yang lebih dominan, olehnya disinilah pentingnya senantiasa memperbaharui atau mencas keimanan kita dan ini salah satu jalan keistiqamahan bukan hanya hanphone yang di cas tetapi iman kita yang lebih pantas dan lebih wajib kita perbaharui. Kita diperintahkan untuk selalu bersama dengan orang – orang sholeh dan bersabar dengan mereka, Nabi memperumpamakan teman yang seholeh seperti minyak wangi:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap”. (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Tentang seseorang jangan tanyakan siapa dia tapi lihat dengan siapa dia berteman, jika kita berteman dengan orang – orang sholeh walaupun kita tidak sesholeh dia maka kita akan ketularan dengan kesholehannya bahkan ketika kita bersendirian dan dihadapan kita ada kemungkaran dan maksiat terkadang hanya dengan mengingat teman yang sholeh sudah bisa membuat kita tidak terjatuh pada perbutan yang mungkar. Diantara tafsiran firman Allah walaupun ini banyak pendapat dikalangan para ulama yaitu ketika Yusuf ‘Alaihissalam digoda oleh istri dari sang raja.

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih“. (QS. Yusuf : 24).

Andaikan dia tidak diperlihatkan burhan atau tanda dari Allah Subhanahu wata’ala mungkin dia terjatuh dalam perbuatan maksiat, sebagian ulama ada yang mengatakan:”Seakan dia melihat bapaknya yang sholeh menahan Yusuf ‘alaihissalam seakan dikatakan kepadanya:”Apa nanti perasaan bapakmu jika dia tahu engkau mengerjakan perbuatan itu”, jadi diantara bentuk malu kepada Allah yaitu anda malu kepada orang yang sholeh dari teman, sahabat, kaum sendiri, jadi berteman dengan orang sholeh maka kita akan ketularan kesholehannya insyaAllah, olehnya sabarkan diri kita bersama dengan mereka karena berteman dengan orang sholeh banyak ujiannya yang pertama mereka bukan malaikat terkadang mereka salah yang menjadikan seseorang menjadi baper atau misalkan ada kesalahpahaman dengannya atau kecewa ketika melihat kekurangannya, Kebersamaan dengan orang sholeh itu lebih baik dari pada berpisah dengan mereka karena segala kekurangannya. Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan:”Ikuti ucapanku dan jangan engkau tertipu dengan perbuatanku, ucapanku bisa bermanfaat bagimu adapun ketergelinciranku tidak akan membahayakanmu”.

Jadi cara istiqamah adalah mencari dan berteman dengan orang – orang sholeh dan jangan malu bersama mereka dijalan Allah Subhanahu wata’ala. Cara istiqamah yang lain adalah memperbanyak ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala karena dengan memperbanyak ibadah menghadirkan pengagungan didalam hati kita kepada Allah sehingga kita takut untuk terjatuh dalam maksiat.

Diantara cara istiqamah yang lain adalah dengan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala

Penghuni surga ketika mereka dimasukkan ke dalam surga perkataan mereka:

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran”. Dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan”. (QS. Al-A’raf : 43).

Setiap jum’at kita mendengar khatib membaca:

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang mampu menyesatkannya, siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah“.  

Ketika ulama kita menyebutkan seorang lelaki yang membunuh 99 jiwa yang akhirnya dia cukupkan 100 karena yang ke 100 ketika diminta fatwa dia jahil, pembunuh ini berkata:”Saya telah membunuh 99 jiwa apakah masih ada peluang bagi saya untuk bertaubat kepada Allah“. orang ini dengan kejahilannya ia menjawab:”Tidak mungkin lagi, 99 sudah telalu banyak, satu saja sudah sangat berbahaya”, akhirnya dia dibunuh dengan kejahilannya tetapi faedah yang bisa kita ambil dari orang ini bahwasanya dia rajin beribadah kepada Allah maka hadir dalam hatinya tahdzim (pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga dia melihat apa yang engkau lakukan ini adalah dosa besar jangankan 99 orang satu saja itu besar disisi Allah, namun dia jahil bahwasanya rahmat dan ampunan Allah itu melebihi dari segala – galanya.

Golongan ketiga سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ (Lebih dahulu berbuat kebaikan)

yaitu orang-orang yang tidak satupun kebaikan yang ia tahu kecuali ia berusaha untuk mengerjakannya dan tak satupun keburukan yang ia tahu kecuali ia berusaha untuk meninggalkannya sampai perkara yang subhat sebagaimana perkataan Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah:”Sampai orang yang bertakwa itu terkadang meninggalkan perkara yang halal karena ia takut terjatuh pada perkara yang diharamkan olehh Allah Subhanahu wata’ala”.

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 26 Rajab 1440 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.