بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ قَالَ أَتَيْنَا أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَشَكَوْنَا إِلَيْهِ مَا نَلْقَى مِنْ الْحَجَّاجِ فَقَالَ اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zubair bin ‘Adi mengatakan: pernah kami mendatangi Anas bin Malik, kemudian kami mengutarakan kepadanya keluh kesah kami tentang ulah para jamaah haji. Maka dia menjawab:”Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalani suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadit ini dari Nabi kalian Shallallahu’alaihi wasallam”. (HR. Imam Bukhari)

Mereka datang kepada Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, Anas bin Malik termasuk diantara sahabat yang diberikan umur panjang oleh Allah Subhanahu wata’ala sampai melewati 100 tahun dan ini adalah keberkahan dari doa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk beliau diberi umur yang panjang dan kelebihan pada harta dan keturunan sehingga beliau mendapati zaman kepemimpinan Al Hajjaj ibn Yusuf As Tsaqafi yang dikenal dengan Mubir Tsaqif dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan bahwasanya akan keluar dari Tsaqif nama sebuah tempat yang menumpahkan darah yang banyak, seseorang yang dzalim yang dimaksudkan adalah Al Hajjaj bin Yusuf As Tsaqafi adapun Al Kadzab yang dimaksudkan adalah Al Mukhtar As Tsaqafi yang mana Al Mukhtar As Tsaqafi dahulu adalah orang yang sholeh bahkan termasuk diantara komandan pasukan dari Ibnu Zubair di zaman Kekhailafahan beliau bahkan beliau ikut memerangi orang – orang yang membunuh Husain Ibnu Ali Radhiyallahu ‘anhuma akan tetapi Allah Subhanahu wata’ala yang membolak balikkan hati seorang hamba sehingga Al Mukhtar As Tsaqafi yang mana Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu menikahi saudara perempuannya.

Di kemudian hari Al Mukhtar As Tsaqafi mengklaim dirinya mendapatkan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala sehingga Nabi memberi julukan Al Kadzab (pendusta). Ketika disampaikan kepada Ibnu Umar bahwasanya iparnya yang bernama
Al Mukhtar As Tsaqafi mengaku mendapatkan wahyu, Ibnu Umar berkata:”Apa yang dia katakan itu benar”, karena Allah Subhanahu wata’ala berfirman didalam Al-Qur’an:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ 

Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kalian; dan jika kalian menuruti mereka, sesungguhnya kalian tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (QS. Al-An’am : 121). Yang dia maksudkan oleh Ibnu Umar adalah wahyu dari syaithan dan bukan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala.

Al Hajjaj bin Yusuf banyak menumpahkan darah bahkan dari kalangan para ulama Rahimakumullah dan ketika hal ini diadukan kepada Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata kepada para tabi’in dan ini menunjukkan tentang keutamaan para ulama yang menjadi rujukan terutama di zaman yang penuh dengan fitnah beliau kemudian tidak menyuruh memberontak kepada penguasa apalagi dengan membawa pedang karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang hal yang seperti ini dan ini adalah aqidah dari Ahlusunnah Wal Jama’ah yaitu tidak melakukan pemberontakan kepada hakim terutama hakim yang menerapkan syariat islam walaupun nampak kedzaliman dari hakim itu karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah yang lebih besar terutama untuk menjaga darah dan nyawa manusia dan kaum muslimin. Inilah mengapa Al Hajjaj bin Yusuf digelari imam yang dzalim itu lebih baik dari pada fitnah yang terus menerus dan tidak terhenti, Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:”60 tahun dengan pemimpin yang dzalim itu lebih baik dari pada satu malam tanpa pemimpin”,

Anas Bin Malik kemudian memberikan arahan kepada para tabi’in dengan berkata:“Bersabarlah, sebab tidaklah kalian menjalani suatu zaman, melainkan sesudahnya lebih buruk daripadanya, sampai kalian menjumpai rabb kalian. Aku mendengar hadit ini dari Nabi kalian Shallallahu’alaihi wasallam”. Hal ini disebabkan karena semakin waktu bergulir atau zaman berlalu semakin jauh dari zaman kenabian dan semakin banyak orang – orang yang berilmu meninggal dan ini yang menjadi jawaban Mungkin ada yang bertanya:”Bukankah setelah ke khalifahan Al Hajjaj bin Yusuf ada khilafah Umar bin Abdul Azis yang terkenal dengan keadilannya beliau hanya memimpin kurang lebih 2 tahun sampai beliau digelari dengan khalifatul khamis khalifah yang ke 5 setelah Abu Bakar As shiddiq, Umar, Ustman, Ali karena keadilannya sebagaimana yang disifatkan oleh imam Syafi’i Rahimahullah Tabaraka wata’ala bahkan sebagian ulama ketika menafsirkan hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam diantara tanda dan ciri akhir zaman adalah harta yang berlimpah sampai – sampai orang kaya tidak tahu kemana zakatnya untuk dibayarkan dan ini pernah berlangsung di zaman khilafah Umar bin Abdul Azis sampai beliau perintahkan pegawainya untuk mengeluarkan gandum-gandum yang melimpah di gudang – gudang penyimpanan zakat untuk di tebarkan di jalan atau dilapangan agar dimakan oleh ayam, unggas dan burung- burung dan beliau berkata:”Agar tidak ada yang mengadu di hari kiamat yang merasa terdzalimi dibawah khilafah Umar bin abul Azis Rahimahullah”. Beliau takut kepada Subhanahu wata’ala, sebelum menjadi khalifah beliau adalah orang yang kaya raya termasuk istrinya Fatimah namun ketika beliau menjabat sebagai khalifah beliau memerintahkan kepada Fatimah untuk menyerahkan hartanya ke baitul maal muslimin dan beliau meninggal dunia tidak mewariskan apa – apa untuk anak atau keturunannya, ketika beliau ditanya mengapa engkau tidak meninggalkan sesuatu yang bisa engkau wariskan kepada anak – anakmu, beliau berkata:”Andaikan anak – anak saya adalah orang – orang yang sholeh maka Allah Subhanahu wata’ala yang akan menanggung kehidupan mereka dan andaikan mereka adalah orang-orang yang buruk maka saya tidak meninggalkan harta untuk membantu mereka bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala”.

Di zaman Al Hajjaj bin Yusuf ada sahabat yang masih hidup dan tentu ini menunjukkan kebaikan di zaman itu dibandingkan zaman setelahnya bagaimanapun kondisi dan keadaannya ketika masih ada sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang hidup ditengah – tengah mereka maka itu adalah alamat kebaikan sebagaimana sahabat yang kita bahas dalam hadist ini Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu.

Jadi beliau memberikan taujihat kepada para tabi’in:”Bersabarlah kalian sesunggunya tidaklah datang suatu zaman melainkan setelahnya itu lebih buruk”. Walaupun kita dilarang untuk mencela zaman, mencela waktu, mengumpat, misalnya kita mengatakan:”Zaman edan” namun jika hanya sekedar untuk mensifatkan tentang pelaku zaman yang edan dan bukan zaman itu sendiri maka ini tidak mengapa sebagaimana Anas bin Malik berkata seperti hal tersebut dalam hadist yang kita bahas.

Imam syafi’i Rahimahullah pernah mengatakan:”Kita sibuk mencela zaman padahal celaan dan aib itu ada pada diri kita dan zaman berlepas dari aib tersebut, segala aib itu ada pada diri kita”.

Terbukti zaman setelahnya lebih buruk sebagaimana yang kita lihat dan ini disebabkan karena jauhnya kita dari tuntunan kenabian dan semakin banyaknya ulama yang meninggal kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ilmu dicabut dari mereka, kejahilan semakin tersebar bahkan terlahir ulama yang buruk yang menyeru manusia pada pintu- pintu neraka jahannam, ulama yang kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:”Mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka tersesat dan menyesatkan orang lain”. Mereka berfatwa atau mengeluarkan perkataan bukan karena Allah tetapi untuk kepentingan tertentu dan diantara yang jelas pada hari ini adalah banyaknya ornag – orang yang dianggap ulama atau ustadz yang meremehkan dan memudah-mudahkan dalam urusan aqidah yang sangat membahayakan aqidah kaum muslimin terutama dengan dalih toleransi dan kemanusiaan,

Mereka membolehkan ucapan selamat kepada orang – orang nasrani yang merayakan hari saya mereka bahkan yang lebih buruk dari itu adalah ketika ada sebagian diantara mereka yang terang – terangan ikut serta dalam perayaan – perayaan i’d yang merupakan syiar khusus bagi non muslim, mereka masuk ke dalam gereja dan seterusnya untuk merayakan natal bersama – sama dengan dalih toleransi dan ini adalah perbuatan yang sangat dimurkai oleh Allah Subhanahu wata’ala, Jika saja Ahmad bin Hambal setiap kali beliau masuk ke kota baghdad dan berjumpa dengan seorang kafir dzimmi (kafir dzimmi mendapatkan perlindungan dinegeri kaum muslimin bahkan Rasulullah mengatakan:”Siapa yang mengganggu kafir dzimmi sungguh ia telah menggangguku”,). Setiap kali Ahmad bin Hambal melihat wajah kafir dzimmi beliau menundukkan kepalanya ketika ditanya beliau berkata:”Saya tidak berkuasa melihat wajah orang yang menuduh Allah Subhanahu wata’ala itu beranak atau mengangkat anak“, pada hari kiamat nanti Allah Subhanahu wata’ala akan berkata kepada Isa ‘Alaihissalam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ اللهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلناسِ اتخِذُونِي وَأُميَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَق إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ 

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman:”Hai Isa putera Maryam, Adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?”. Isa menjawab:”Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). jika aku pernah mengatakan Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al-Maidah: 116).

Nabi Isa ‘Alaihissalam berlepas diri dari orang – orang yang menuhankannya, Imam Ibnu Qayyim mengatakan:”Sungguh tidak ada yang pernah mencela Allah Subhanahu wata’ala melebihi buruknya celaan orang – orang nasrani yang kemudian menuduh Allah Subhanahu wata’ala itu mengangkat atau memiliki anak, dan Allah Subhanahu wata’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)

Dan mereka berkata:”Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menda’wakan Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. (QS. Maryam: 88-92).

Sering kita baca dalam surah Al Ikhlas dan semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmati Buya Hamka yang rela meninggalkan jabatannya sebagai ketua MUI di zamannya karena mempertahankan fatwa tersebut bahwasanya haram hukumnya mengucapkan ucapan selamat natal kepada orang – orang nasrani yang merayakannya, adapun toleransi dituntut dan islam adalah agama yang paling toleransi, kita diperintahkan berbuat baik kepada non muslim dalam urusan – urusan dunia, muamalah, bertetangga dengan mereka, tidak mengganggunya bahkan kita diperintahkan untuk berbuat kepada mereka, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memakan makanan dari masakan orang Yahudi di Khaibar bahkan beliau meninggal dunia dan baju besinya masih tergadai ditangan seorang Yahudi, boleh dalam urusan duniawiyah, muamalah tetapi jika sudah menyangkut ibadah, aqidah dan syi’ar maka ini haram dan dilarang dalam agama islam.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah dan mendapati penduduk Madinah mereka merayakan 2 hari atau hari dimana mereka bersenda gurau dan main – main didalamnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:”Sungguh Allah Subhanahu wata’ala telah menggantikannya dengan hari raya yang lebih baik dari itu yaitu idul fitri dan idul adha dan semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan kepada kita taufik dan memberikan kepada kita hidayah serta As Shabat sampai kita berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala. 

Wallahu a’lam Bish Showaab 


Oleh : Ustadz Harman Tajang, Lc., M.H.I Hafidzahullahu Ta’ala (Direktur Markaz Imam Malik)

@Selasa, 21 Jumadil Akhir 1439 H

Fanspage : Harman Tajang

Kunjungi Media MIM:
Fans page: https://www.facebook.com/markaz.imam.malik.makassar/

Website : http://mim.or.id

Youtube : https://www.youtube.com/c/MimTvMakassar

Telegram : https://telegram.me/infokommim

Instagram : https://www.instagram.com/markaz_imam_malik/

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.