عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ ”

حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ هَكَذَا

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.”
(Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan lainnya semisal itu pula)


BACA JUGA: Meragukan? Tinggalkan! – Pembahasan Kitab Arba’in Nawawiyah Hadits Kesebelas

Hadits yang keduabelas ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang juga meriwayatkan hadits kesembilan dan hadits kesepuluh pada Kitab Arba’in Nawawiyah. Biografi singkatnya telah kami jelaskan pada artikel sebelumnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Salah satu tanda kesempurnaan keislaman seseorang adalah ketika dia meninggalkan segala sesuatu yang tidak penting.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan hadits ini adalah hadits yang hasan. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini sangat singkat.

Pelajaran Pertama: Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup sebagai seorang muslim ternyata bukan hanya sekedar menjalankan ibadah-ibadah yang mahdhah (ibadah yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya), tetapi menjadi seorang muslim juga adalah bagaimana kita mempunyai sikap dalam kehidupan kita, sehingga seorang muslim memiliki sikap dan prinsip yang kuat dalam hidupnya seperti yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini bahwa seorang muslim itu akan mempertimbangkan segala sesuatu yang akan dilakukan-dipilih apakah bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya atau tidak.
Hadits ini mengajarkan untuk selalu memunculkan pertanyaan dari diri kita sebelum melakukan suatu keputusan, dimana pertimbangan untuk mengambil keputusan itu harus menimbang apakah bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya.

Sebagian ‘Ulama mengatakan bahwa hadits ini bisa dikatakan mewakili sepertiga ajaran Islam, karena salah satu prinsip utama dalam Islam adalah mengambil sebanyak mungkin manfaat (kemaslahatan) dan menolak semaksimal mungkin bahaya (kemudharatan) yang tidak ada manfaatnya.
Mengambil kemaslahatan disini bukan hanya untuk di dunia saja melainkan juga untuk akhirat. Contohnya adalah menjilat (membantu) kepada penguasa yang dzalim atau pejabat yang korup, mungkin ia akan diberikan jabatan yang tinggi di dunia namun ia tidak akan selamat di akhirat kelak. Disini kita memastikan bahwa kemashlahatan di akhirat adalah skala prioritas seorang mukmin.

Hadits diatas bersifat umum, mencakup aspek perkataan dan perbuatan. Semua perkataan dan perbuatan kita ini harus melalui “pertanyaan” didalam diri kita; “Apakah perkataan dan perbuatan kita ini bermanfaat bagi dunia dan akhirat saya?

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah menjelaskan tentang bagaimana hadits ini mencakupi segala aspek dalam kehidupan kita kemudian beliau mengatakan bahwa segala sesuatu yang berlebihan didalam kehidupan seorang manusia dapat membawa mudharat, karena jika dia berlebihan artinya ia melewati batas yang dibutuhkan. Contohnya dalam persoalan makan dan beristirahat. Makan itu penting tetapi jika terlalu banyak makan itu akan berbahaya untuk tubuh kita. Istirahat itu penting tetapi jika terlalu banyak beristirahat itu akan menimbulkan kemalasan.

Pelajaran Kedua: Seorang muslim harus memastikan perkataan dan tindakan yang muncul darinya adalah sesuatu yang bermanfaat, alasannya karena hidup ini teramat sangat singkat. Karena hidup ini singkat maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita bahwa apa yang kita lakukan ini adalah hal-hal yang bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhirat kita. Lakukanlah sesuatu amalan yang kapanpun Allah subhanahu wa ta’ala memanggil kita (meninggalkan kehidupan di dunia ini), kita masih merasakan manfaatnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) Sedekah jariyah, (2) Ilmu yang diambil manfaatnya, (3) Anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya.”
(HR. Muslim, no. 1631)

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa mengistiqamahkan kita untuk berkata dan melakukan sesuatu yang bermanfaat, untuk dunia kita terlebih lagi untuk akhirat kita.

Wallahu a’lam bisshowab

Oleh : Ustadz Dr. Ihsan Zainuddin, Lc., M.Si Hafidzahullahu Ta’ala
Ta’lim Kajian Kitab Arbain Nawawiyah – Masjid Nurul Hikmah MIM (Kamis, 27 Februari 2020)

BACA JUGA: Lakukan Pemutakhiran Data Pesantren, Markaz Imam Malik Terima Kunjungan dari Kemenag Makassar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.